Selasa, 21 Juni 2011

Kamis, 02 Juni 2011

Bronkhitis kronik

ASUHAN KEPERAWATAN BRONKHITIS KRONIK

DEFINISI
Bronkhitis dikarakteristikkan oleh inflamasi lapisan mukosa jalan nafas trakeo bronkial dan produksi mukus yang berlebihan. Hal ini dapat akut atau kronis. (Barbara Engram,1999)
Bronkhitis akut adalah peradangan bronki dan kadang-kadang mengenai trakea yang timbul secara mendadak.(Santa Manurung dkk, 2009)
Bronkhitis kronis didefinisikan sebagai hipersekresi mukus dan batuk produktif kronis atau berulang minimal selama 3 bulan per tahun atau paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut pada pasien yang diketahui tidak terdapat penyebab lain. (Long, 1996)

ETIOLOGI
1. Penghirupan zat iritan fisik (debu, asap) atau kimia (N20, CO)
2. Infeksi virus atau bakteri (streptokokus pneumoniae, haemophilus influenza)
3. Merokok

PATOFISIOLOGI
- Hipertropi kelenjar mukosa bronkus dan peningkatan jumlah sel goblet
disertai infiltrasi sel radang dan udema mukosa bronkus.
- Akibatnya, pembentukan mukus akan meningkat dan mengakibatkan batuk
produktif.
- Batuk kronik disertai peningkatan sekresi bronkus mempengaruhi bronkiolus
yang kecil-kecil sedemikian rupa sampai bronkiolus tersebut rusak dan
dindingnya melebar.

TANDA DAN GEJALA
- Gejala awal : batuk produktif
- Auskultasi : ronkhi bronkovesikuler, rales
- Gejala berikutnya : kelemahan fisik, sesak saat berjalan ditempat datar,
penggunaan otot-toto aksesorius pernapasan, sering sianosis, edema kaki,
pelebaran vena leher.

Test Diagnostik :
- RO thorak
- Analisa sputum
- Tes Fungsi paru
- Pemeriksaan gas darah arteri : (PaO2 rendah, PaCO2 meingkat)

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kerusakan pertukaran gas
2. Intoleransi aktifitas
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
4. Resiko tinggi infeksi
5. Ansietas
6. Gangguan konsep diri
7. Resiko tinggi ketidakpatuhan

PERENCANAAN
1. Pernapasan bibir/pernapasan abdomen
2. Fisioterapi paru
3. Terapi oksigen
4. Pengobatan : bronkodilator, antibiotika
5. Tempatkan posisi fowler atau fowler yang tinggi
6. Bantu pengendalian lingkungan
7. Hindari penghirupan iritan
8. Perbaiki toleransi aktifitas : sediakan cukup waktu untuk beraktifitas,
sediakan O2, tingkatkan aktiftas secara bertahap
9. Bantu perbaiki pola tidur : latihan relaksasi, masase, musik, posisi, dll
10. Bantu mengurangi ansietas : bantu pasien menceritakan kecemasannya, jangan
tinggalkan pasien sendirian selama sesak
11. Konseling dan pendidikan : kurangi merokok, dorong orang lain untuk tidak
merokok, hindari penderita infeksi pernapasan, kurangi kontak dengan
anak-anak

Jamkesmas

alur pelayanan puskesmas DTP cibeber cilegon

Selasa, 15 Maret 2011

KEUNGGULAN ASI DAN MANFAAT MENYUSUI

KEUNGGULAN ASI DAN MANFAAT MENYUSUI

Keunggulan dan manfaat menyusui dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu: aspek gizi, aspek imunologik, aspek psikologi, aspek kecerdasan, neurologis, ekonomis dan aspek penundaan kehamilan.

1.Aspek Gizi.
Manfaat Kolostrum
• Kolostrum mengandung zat kekebalan terutama IgA untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi terutama diare.
• Jumlah kolostrum yang diproduksi bervariasi tergantung dari hisapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran. Walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi. Oleh karena itu kolostrum harus diberikan pada bayi.
• Kolostrum mengandung protein,vitamin A yang tinggi dan mengandung karbohidrat dan lemak rendah, sehingga sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama kelahiran.
• Membantu mengeluarkan mekonium yaitu kotoran bayi yang pertama berwarna hitam kehijauan.

Komposisi ASI
• ASI mudah dicerna, karena selain mengandung zat gizi yang sesuai, juga mengandung enzim-enzim untuk mencernakan zat-zat gizi yang terdapat dalam ASI tersebut.
• ASI mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi/anak.
• Selain mengandung protein yang tinggi, ASI memiliki perbandingan antara Whei dan Casein yang sesuai untuk bayi. Rasio Whei dengan Casein merupakan salah satu keunggulan ASI dibandingkan dengan susu sapi. ASI mengandung whey lebih banyak yaitu 65:35. Komposisi ini menyebabkan protein ASI lebih mudah diserap. Sedangkan pada susu sapi mempunyai perbandingan Whey :Casein adalah 20 : 80, sehingga tidak mudah diserap.

Komposisi Taurin, DHA dan AA pada ASI
• Taurin adalah sejenis asam amino kedua yang terbanyak dalam ASI yang berfungsi sebagai neuro-transmitter dan berperan penting untuk proses maturasi sel otak. Percobaan pada binatang menunjukkan bahwa defisiensi taurin akan berakibat terjadinya gangguan pada retina mata.
• Decosahexanoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA) adalah asam lemak tak jenuh rantai panjang (polyunsaturated fatty acids) yang diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak yang optimal. Jumlah DHA dan AA dalam ASI sangat mencukupi untuk menjamin pertumbuhan dan kecerdasan anak. Disamping itu DHA dan AA dalam tubuh dapat dibentuk/disintesa dari substansi pembentuknya (precursor) yaitu masing-masing dari Omega 3 (asam linolenat) dan Omega 6 (asam linoleat).

2. Aspek Imunologik
• ASI mengandung zat anti infeksi, bersih dan bebas kontaminasi.
• Immunoglobulin A (Ig.A) dalam kolostrum atau ASI kadarnya cukup tinggi. Sekretori Ig.A tidak diserap tetapi dapat melumpuhkan bakteri patogen E. coli dan berbagai virus pada saluran pencernaan.
• Laktoferin yaitu sejenis protein yang merupakan komponen zat kekebalan yang mengikat zat besi di saluran pencernaan.
• Lysosim, enzym yang melindungi bayi terhadap bakteri (E. coli dan salmonella) dan virus. Jumlah lysosim dalam ASI 300 kali lebih banyak daripada susu sapi.
• Sel darah putih pada ASI pada 2 minggu pertama lebih dari 4000 sel per mil. Terdiri dari 3 macam yaitu: Brochus-Asociated Lympocyte Tissue (BALT) antibodi pernafasan, Gut Asociated Lympocyte Tissue (GALT) antibodi saluran pernafasan, dan Mammary Asociated Lympocyte Tissue (MALT) antibodi jaringan payudara ibu.
• Faktor bifidus, sejenis karbohidrat yang mengandung nitrogen, menunjang pertumbuhan bakteri lactobacillus bifidus. Bakteri ini menjaga keasaman flora usus bayi dan berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang merugikan.

3. Aspek Psikologik
• Rasa percaya diri ibu untuk menyusui : bahwa ibu mampu menyusui dengan produksi ASI yang mencukupi untuk bayi. Menyusui dipengaruhi oleh emosi ibu dan kasih saying terhadap bayi akan meningkatkan produksi hormon terutama oksitosin yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi ASI.
• Interaksi Ibu dan Bayi: Pertumbuhan dan perkembangan psikologik bayi tergantung pada kesatuan ibu-bayi tersebut.
• Pengaruh kontak langsung ibu-bayi : ikatan kasih sayang ibu-bayi terjadi karena berbagai rangsangan seperti sentuhan kulit (skin to skin contact). Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak bayi masih dalam rahim.

4. Aspek Kecerdasan
• Interaksi ibu-bayi dan kandungan nilai gizi ASI sangat dibutuhkan untuk perkembangan system syaraf otak yang dapat meningkatkan kecerdasan bayi.
• Penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ point 4.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun, dan 8.3 point lebih tinggi pada usia 8.5 tahun, dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI.

5. Aspek Neurologis
• Dengan menghisap payudara, koordinasi syaraf menelan, menghisap dan bernafas yang terjadi pada bayi baru lahir dapat lebih sempurna.

6. Aspek Ekonomis
• Dengan menyusui secara eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makanan bayi sampai bayi berumur 4 bulan. Dengan demikian akan menghemat pengeluaran rumah tangga untuk membeli susu formula dan peralatannya.

7. Aspek Penundaan Kehamilan
• Dengan menyusui secara eksklusif dapat menunda haid dan kehamilan, sehingga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah yang secara umum dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi (MAL).

Sumber: Buku Panduan Manajemen Laktasi: Dit.Gizi Masyarakat-Depkes RI,20

Rabu, 09 Maret 2011

Post Partum

.Post Partum
Pengertian
Post partum adalah masa dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, berlangsung selama kira-kira 6 minggu.(8)

Post partum adalah masa setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu.(9)

Post partum adalah waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat kandungan pada keadaan yang normal berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari.(14)

2. Pengetahuan Ibu tentang bahaya masa nifas
Pengertian
Pengetahuan (post partum) adalah pengetahuan ibu mengenai masa nifas.(1)

Tanda bahaya masa nifas adalah tanda-tanda bahaya yang terjadi pada masa nifas yang perlu diketahui oleh ibu post partum terutama yang dapat mengancam keselamatan ibu.(3)

Pengetahuan tentang tanda bahaya masa nifas adalah pengetahuan ibu tentang tanda bahaya yang terjadi pada masa nifas yang perlu diketahui karena dapat mengancam keselamatan ibu.(3)
a. Klasifikasi tanda bahaya masa nifas Patologi yang sering terjadi pada masa nifas adalah :
1 Perdarahan pasca persalinan
2 Infeksi post partum
3 Preeklamsi
4 Depresi post partum

b. Gejala bahaya masa nifas
1 Perdarahan pasca persalinan Perdarahan pasca persalinan adalah kehilangan darah melebihi 500 ml yang terjadi setelah bayi lahir. Perdarahan primer (perdarahan pasca persalinan dini) terjadi dalam 24 jam pertama,sedangkan pedarahan sekunder (perdarahan masa nifas) terjadi setelah itu.(9) Perdarahan pasca persalinan dapat terjadi perlahan-lahan dan tidak segera disadari oleh penolong, sampai si ibu berada dalam kondisi pre-syok.
Tanda atau gejala klinis syok hipovolemik :

1. Nadi cepat > 100 kali/menit
2. Sirkulasi kulit (dingin dan pucat)
3. Tekanan darah semakin menurun
4. Tingkat kesadaran menurun akibat banyak kehilangan darah
5. Respirasi makin cepat > 30 kali / menit.(1)





Sebab Perdarahan Pasca persalinan.(1)
Gejala dan tanda yang selalu ada Tanda dan gejala yang kadang-kadang ada Diagnosis kerja
§ Fundus di atas pusat, uterus teraba lembek tidak berkontraksi
§ Perdarahan banyak segera setelah plasenta lahir
§ K.U. ibu segera membentuk pesyok sampai syok. Atonia uteri
§ Perdarahan segera setelah bayi lahir § Darah segar§ Uterus berkontraksi baik§ Plasenta lengkap
§ Pucat § Lemah § Menggigil Robekan jalan lahir
§ Plasenta belum lahirsetelah 30 menit, disertai perdarahan pervaginam
§ Uteris berkontraksi
§ Tali pusat bisa putus akibat traksi berlebihan
§ Inversio uteri akibat tarikan tali pusat + dorongan fundus
§ Perdarahan lanjutan Retensio plasenta
§ Plasenta atau sebagianselaput tidak lengkap
§ Perdarahan segera § Uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang Sisa plasenta atau selaput
§ Fundus tak teraba§ Lumen vagina terisi masa§ Tampak tali pusat (bila plasenta belum lahir)§ Nyeri ringan s/d berat § Syok neurogenik § Pucat dan limbung Inversio uteri
§ Kontraksi uterus kurang, tegas, nyeri pada palpasi § Perdarahan pervaginam bisa banyak atau biasa § Ibu kesakitan, lekas presyok√® syok§ Abdomen cembung Ruptura uteri

2 Infeksi post partum
Infeksi post partum adalah infeksi bakteri pada traktus genetalia, terjadi sesudah melahirkan, ditandai kenaikan suhu sampai 380C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan, dengan mengecualikan 24 jam pertama.(9)
Infeksi post partum dapat dibagi dalam 2 golongan yaitu :
1. Infeksi yang terbatas pada perineum vulva, vagina serviks dan endometrium
2. Penyebaran dari tempat – tempat tersebut melalui vena – vena, jalan limfe dan permukaan endometrium.
a. Infeksi perineum, vulva, vagina dan serviks. Gejalanya berupa rasa nyeri dan panas pada tempat infeksi, kadang-kadang perih bila kencing.
b. Endometritis. Kadang-kadang lokhia tertahan dalam uterus oleh darah, sisa plasenta dan selaput ketuban. Keadaan ini dinamakan lokiometra dan dapat menyebabkan kenaikan suhu. Uterus agak membesar, nyeri pada perabaan dan lembek.
c. Septikemia dan piemia. Pada septikemia dari permulaan pasien sudah sakit dan lemah. Sampai 3 hari pasca persalinan suhu meningkat dengan cepat, biasanya disertai menggigil. Suhu sekitar 39 – 400C, keadaan umum cepat memburuk, nadi cepat (140 -160 / menit atau lebih). Pasien dapat meninggal dalam 6-7 hari pasca persalinan.
d. Peritonitis. Pada peritonitis umum terjadi peningkatan suhu menjadi tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, ada defense musculaire. Muka penderita yang mula-mula kemerahan menjadi pucat, mata cekung, kulit muka dingin : terdapat facies hippocratica.(9)





2.3.3.3 Preeklamsi
Preeklamsi adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema dan protenuria yang timbul karena kehamilan.(15)
Preeklamsi dan eklamsi adalah kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan ibu nifas yang terdiri atas hipertensi, edema, protein urin dan kadang-kadang disertai konvulsi sampai koma.(16)
Diagnosis preeklamsi ditegakkan berdasarkan adanya dari gejala yaitu :
1. Penambahan berat badan : bila terjadi kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali
2. Edema : terlihat sebagai peningkatan berat badan, pembengkakan kaki, jari tangan dan muka
3. Tekanan darah sistol > 160 mmHg dan diastol > 110 mmHg
4. Oliguria (urine < 400 ml / 24 jam ) 5. Protenuria > 3 gram/ liter
6. Keluhan subjektif :
a. Sakit kepala di frontal
b. Gangguan penglihatan
c. Nyeri epigastrium
d. Gangguan kesadaran.(4)


2.3.3.4 Depresi post partum
Banyak wanita dalam minggu pertama setelah melahirkan menunjukkan gejala-gejala depresi ringan sampai berat sebab beban pekerjaan ibu bertambah disamping ibu harus memperhatikan dirinya juga bayinya, apabila baru pertama melahirkan.
Faktor yang menyebabkan :
1. Ketakutan yang berlebihan dalam masa hamil
2. Riwayat psikiatrik yang abnormal
3. Riwayat obstertik yang abnormal
4. Riwayat kelahiran mati atau cacat

1. Post partum Blues (Depresi ringan )
Penyebab :
a. Kekecewaan emosional yang mengikuti rasa puas dan takut saat kehamilan dan proses persalinan
b. Rasa sakit masa nifas akibat tindakan saat proses persalinan misal episiotomi
c. Kecemasan pada kemampuan untuk merawat bayinya setelah meninggalkan Rumah sakit

d. Rasa takut menjadi tidak menarik lagi bagi suami.
Ciri-Ciri :
Ibu akan menjadi murung, mudah menangis, tidak sabar karena bayinya susah menyusu, khawatir kalau ia bukan seorang Ibu yang baik dan suami merasa tidak mencintainya lagi. Kemurungan masa nifas umum terjadi pada semua ibu baru. Hal ini normal dan disebabkan perubahan dalam tubuh wanita selama kehamilan serta perubahan cara kehidupannya sesudah bayinya lahir.




2. Depresi post partum (Depresi Berat)
Tanda dan gejala :
Kelelahan, mudah marah, kesedihan, merasa mendengar suara orang yang sesungguhnya tidak ada, kurangnya energi dan motivasi, ada perasaan tidak mendapat bantuan dan putus asa, hilang libido dan nafsu makan serta adanya gangguan tidur, sakit kepala, asma, nyeri punggung, adanya cairan pada vagina dan nyeri abdomen juga dapat ditemui. Gejala lain yang dapat timbul adanya pikiran obsesional, ketakutan akan melukai sendiri ataupun bayinya, terpikir untuk bunuh diri dan depersonalisasi

Infeksi Masa Nifas

Setelah persalinan terjadi beberapa perubahan penting diantaranya makin meningkatnya pembentukkan urin untuk mengurangi hemodilusi darah, terjadi penyerapan beberapa bahan tertentu melalui pembuluh darah vena sehingga terjadi peningkatan suhu badan sekitar 0,5 oC yang bukan merupakan keadaan patologis atau menyimpang pada hari pertama. Perlukaan karena persalinan merupakan tempat masuknya kuman kedalam tubuh, sehingga menimbulkan infeksi pada kala nifas. Infeksi kala nifas adalah infeksi peradangan pada semua alat genitalia pada masa nifas oleh sebab apapun dengan ketentuan meningkatnya suhu badan melebihi 38 oC tanpa menghitung hari pertama dan berturut-turut selama dua hari.
Gambaran klinis infeksi umum dapat dalam bentuk :
1. Infeksi Lokal
1. Pembengkakan luka episiotomi.
2. Terjadi penanahan.
3. Perubahan warna lokal.
4. Pengeluaran lochia bercampur nanah.
5. Mobilisasi terbatas karena rasa nyeri.
6. Temperatur badan dapat meningkat.

2. Infeksi General
1. Tampak sakit dan lemah.
2. Temperatur meningkat diatas 39 oC.
3. Tekanan darah dapat menurun dan nadi meningkat.
4. Pernapasan dapat meningkat dan napas terasa sesak.
5. Kesadaran gelisah sampai menurun dan koma.
6. Terjadi gangguan involusi uterus.
7. Lochia : berbau, bernanah serta kotor.
Faktor Predisposisi Infeksi Masa Nifas
Faktor predisposisi infeksi masa nifas diantaranya adalah :
1. Persalinan berlangsung lama sampai terjadi persalinan terlantar.
2. Tindakan operasi persalinan.
3. Tertinggalnya plasenta selaput ketuban dan bekuan darah.
4. Ketuban pecah dini atau pada pembukaan masih kecil melebihi enam jam.
5. Keadaan yang dapat menurunkan keadaan umum, yaitu perdarahan antepartum dan post partum, anemia pada saat kehamilan, malnutrisi, kelelahan dan ibu hamil dengan penyakit infeksi.
2.5.3. Terjadinya Infeksi Masa Nifas
Terjadinya infeksi masa nifas adalah sebagai berikut:
1. Manipulasi penolong: terlalu sering melakukan pemeriksaan dalam, alat yang dipakai kurang suci hama.
2. Infeksi yang didapat di rumah sakit (nosokomial).
3. Hubungan seks menjelang persalinan.
4. Sudah terdapat infeksi intrapartum: persalinan lama terlantar, ketuban pecah lebih dari enam jam, terdapat pusat infeksi dalam tubuh (lokal infeksi).
5. 2.5.4. Keadaan abnormal pada rahim
Beberapa keadaan abnormal pada rahim adalah :
1. Sub involusi uteri.
Proses involusi rahim tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga proses pengecilan rahim terhambat. Penyebab terjadinya sub involusi uteri adalah terjadinya infeksi pada endometrium, terdapat sisa plasenta dan selaputnya, terdapat bekuan darah, atau mioma uteri.
2. Pendarahan masa nifas sekunder.
Adalah pendarahan yang terjadi pada 24 jam pertama. Penyebabnya adalah terjadinya infeksi pada endometrium dan terdapat sisa plasenta dan selaputnya.
3. Flegmansia alba dolens.
Merupakan salah satu bentuk infeksi puerpuralis yang mengenai pembuluh darah vena femoralis. Gejala kliniknya adalah :
1. Terjadi pembengkakan pada tungkai.
2. Berwarna putih.
3. Terasa sangat nyeri.
4. Tampak bendungan pembuluh darah.
5. Temperatur badan dapat meningkat.
Keadaan abnormal pada payudara
Beberapa keadaan abnormal yang mungkin terjadi adalah :
1. Bendungan ASI
Disebabkan oleh penyumbatan pada saluran ASI. Keluhan mamae bengkak, keras, dan terasa panas sampai suhu badan meningkat.
2. Mastitis dan Abses Mamae
Infeksi ini menimbulkan demam, nyeri lokal pada mamae, pemadatan mamae dan terjadi perubahan warna kulit mamae.
Keadaan abnormal pada psikologis
1. Psikologi Pada Masa Nifas
Perubahan emosi selama masa nifas memiliki berbagai bentuk dan variasi. Kondisi ini akan berangsur-angsur normal sampai pada minggu ke 12 setelah melahirkan.
Pada 0 – 3 hari setelah melahirkan, ibu nifas berada pada puncak kegelisahan setelah melahirkan karena rasa sakit pada saat melahirkan sangat terasa yang berakibat ibu sulit beristirahat, sehingga ibu mengalami kekurangan istirahat pada siang hari dan sulit tidur dimalam hari.
Pada 3 -10 hari setelah melahirkan, Postnatal blues biasanya muncul, biasanya disebut dengan 3th day blues. Tapi pada kenyataanya berdasarkan riset yang dilakukan paling banyak muncul pada hari ke lima. Postnatal blues adalah suatu kondisi dimana ibu memiliki perasaan khawatir yang berlebihan terhadap kondisinya dan kondisi bayinya sehingga ibu mudah panik dengan sedikit saja perubahan pada kondisi dirinya atau bayinya.
Pada 1 – 12 minggu setelah melahirkan, kondisi ibu mulai membaik dan menuju pada tahap normal. Pengembalian kondisi ibu ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya, misalnya perhatian dari anggota keluarga terdekat. Semakin baik perhatian yang diberikan maka semakin cepat emosi ibu kembali pada keadaan normal.
2. Depresi Pada Masa Nifas
Riset menunjukan 10% ibu mengalami depresi setelah melahirkan dan 10%-nya saja yang tidak mengalami perubahan emosi. Keadaan ini berlangsung antara 3-6 bulan bahkan pada beberapa kasus terjadi selama 1 tahun pertama kehidupan bayi.
Penyebab depresi terjadi karena reaksi terhadap rasa sakit yang muncul saat melahirkan dan karena sebab-sebab yang kompleks lainnya. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan menunjukan faktor-faktor penyebab depresi adalah terhambatnya karir ibu karena harus melahirkan, kurangnya perhatian orang-orang terdekat terutama suami dan perubahan struktur keluarga karena hadirnya bayi, terutama pada ibu primipara.

KONSEP KESEHATAN REPRODUKSI (kespro)

Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala hal yang berkaitan dengan sistem, fungsi dan proses reproduksinya (ICPD, Cairo)
Kesehatan seksual merupakan keharmonisan hubungan antar manusia, dimana setiap individu merasa nyaman dengan seksualitasnya dan mampu mengkomunikasikan perasaan-perasaan dan kebutuhan seksualnya serta menghormati kebutuhan seksual orang lain. (FWCW Platform, 1996, ICPD)
Hak-hak seksual adalah termasuk hak asasi perempuan untuk dapat secara bebas dan bertanggung jawab mengontrol dan memutuskan hal-hal yang terkait dengan seksualitasnya termasuk kesehatan reproduksi dan seksual, bebas dari paksaan, diskriminasi dan kekerasan (FWCW Platform, 1996)
Hak-hak reproduksi mengacu pada hak-hak asasi manusia seperti tercantum dalam hukum internasional dan nasional serta dokumen-dokumen hak asasi manusia (HAM) mencakup :
• Hak dasar individu dan pasangan untuk menentukan secara bebas dan bertanggung jawab atas jumlah dan jarak anak, mendapatkan informasi serta cara-cara untuk melaksanakan hal tersebut
• Hak untuk mancapai standar tertinggi kesehatan reproduksi dan seksual
• Hak untuk membuat keputusan yang terbatas dari diskriminasi, paksaan dan kekerasan
Sejarah perkembangan kespro
1) Konferensi di Wina, 1993
Mendiskusikan HAM dalam perspektif gender dan isu kontroversial mengenai hak reproduksi. Mendeklarasikan “HAP dan anak perempuan adalah mutlak, terpadu dan merupakan bagian dari HAM”
2) ICPD (International Conference on Population Development)
Disponsori oleh PBB yang dihadiri oleh 180 negara dan bertempat di Cairo Mesir, yang menghasilkan kebijakan program kependudukan (Program Aksi 20 tahun) yang menyerukan agar setiap negara meningkatkan status kesehatan , pendidikan dan hak individu khususnya perempuan dan anak, mengintegrasikan program KB kedalam agenda kesehatan perempuan yang lebih luas (Wallstam, 1977)
3) Konferensi perempuan sedunia ke 4 di Beijing (Fourth World Conference on Women) 1995
Menghasilkan platform 12th Critical Area of concern yang dianggap sebagai penghambat utama kemajuan kaum perempuan
12th Critical Area of Concern
1. Kemiskinan (jumlah perempuan dalam kemiskinan lebih banyak daripada pria)
2. Pendidikan dan pelatihan (merupakan sarana penting mencapai kesetaraan)
3. Kesehatan (mencakup fisik, mental dan psikososial)
4. Kekerasan (pada umumnya yang menjadi objek kekerasan adalah perempuan)
5. Konflik bersenjata (perkosaan sebagai upaya pemusnahan)
6. Ekonomi (perempuan jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan sehingga cebderung dirugikan)
7. Mekanisme institusional (sering terpinggirkan dalam struktur pemerintahan, keterbatasan SDM)
8. Hak Asasi Manusia
9. Media (terus menonjolkan gambaran yang merendahkan perempuan)
10. Lingkungan (dampak negatif kesehatan dan kesejahteraan)
11. Diskriminasi (dihadapi sejak awal kehidupannya, prilaku praktikyang berbahaya, kurangnya perlindungan hukum, rentan kekerasan, konsekuensi hubungan seks yang tidak aman usia dini)
Telaah lima tahunan, ICPD+5, 1999
• Membahas tentang kemajuan dan kegagalan pemerintah dalam program kependudukan
• Isu kontroversial (isu seksualitas dan aborsi, kontrasepsi darurat/emergency contaception)
• Target baru 2015 untuk mengukur penerapan ICPD :
# Akses terhadap pendidikan dasar, tahun 2015 meningkatkan peran anak laki-laki dan perempuan 90% untuk SD sebelum 2010 menurunkan buta huruf sebagian pada tahun 2015
# Semua fasilits KB menyediakan kontrasepsi yang aman dan efektif, pelayanan kebidanan, PSIR, metode perlindungan mncegah infeksi secara langsung (rujukan)
# Mengurangi kesenjangan anara proporsi individu pemakai alat kontrasepsi (alkom) dengan individu ysng ingin membatasi jumlah anak tanpa target/kuota
# Pelayanan pencegahan HIV untuk laki-laki dan perempuan usia 15-24 termasuk penyediaan kondom, pemeriksaan secara sukarela, konseling dan tindak lanjut